Selasa, 05 Juni 2012




PENGETAHUAN remaja di Jakarta tentang HIV/AIDS masih tergolong rendah. Sejauh ini, tercatat hanya sekitar 22 persen remaja usia 15-24 tahun di ibu kota yang mengetahui tentang bahaya HIV/AIDS.

Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ida Bagus Nyoman Banjar mengatakan, terkadang para remaja tidak peduli dengan informasi yang diberikan. Padahal, pihaknya terus melakukan sosialisasi HIV/AIDS. “Salah satunya terkait cara-cara penularan virus HIV yang mematikan tersebut,” ujar Banjar, Senin (4/6).

Dikatakan Banjar, ada tiga kategori dalam pemberian informasi kemasyarakat, yakni pemberi informasi, informasi itu sendiri, dan penerima informasi. Ketiganya harus saling terkoneksi sehingga informasi dapat tersampaikan dengan baik dan benar. “Jika sudah disampaikan tapi orangnya cuek, itu akan sama saja tidak akan optimal,” katanya.

Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan bahaya HIV/AIDS, pihaknya tengah mengembangkan program, Aku Bangga Aku Tahu. “Melalui program ini diharapkan tingkat pengetahuan masyarakat tentang HIV/AIDS bisa mencapai 95 persen seperti yang ditargetkan. Meski teknologi di Jakarta sudah canggih, tetap saja harus diikuti partisipasi dari masyarakat. Bahkan, di provinsi lain tingkat pengetahuannya hanya mencapai 19 persen atau 18 persen,” ungkapnya.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta Rohana Manggala mengatakan, untuk membantu meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terutama bagi generasi muda, akan diadakan Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) 2012. Kegiatan ini diharapkan, mampu mengurangi stigma sekaligus meningkatkan kualitas hidup mereka.

“Harus diketahui oleh masyarakat bahwa HIV/AIDS tidak ditularkan hanya melalui ciuman. Penularannya hanya bisa terjadi melalui sperma, cairan vagina, dan menyusui,” ucapnya. (wok)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar